DRAG BIKE 2013,ATURAN BOBOT,KEBIRI CATATAN WAKTU ?


 Bukan hanya persaingan, aturan bobot motor pun kian berat di drag bike 2013. Beberapa kelas bertambah bobotnya dibanding regulasi tahun lalu. Paling terkena dampaknya adalah Matik Tune Up s/d 200 cc. Tahun ini kelas tersebut menjadi salah satu kelas utama. Ini kelas ramai, makanya jadi 'berisik' setelah bobotnya naik 15 kg dari tahun lalu yang minimum 100 kg.......





Rata-rata peserta di kelas ini telah mendapat bobot ideal dengan aturan lama. Cendy Gerry di atas Mio 200 cc milik Wahana Baru Motor, Bandung, Jabar ideal 101 kg. “Dengan berat segitu, tenaga dan keseimbangan motor pas untuk 201 meter. Berat motornya saja 51 kg, sisanya berat joki. Dengan berubahnya bobot, catatan waktu 2012 akan sulit dipecahkan di awal-awal tahun,” kata Muhammad Farid alias Popo, mekanik Wahana.

Sementara Richo Bochel di jok Yamaha Mio 200 cc dari  Anker Sport Hariot’s Feat Key Speed bobot totalnya 103 kg. Penyabet hadiah utama Suzuki APV dalam event Pertamina Enduro Drag Bike 2012, terpaksa mengubahnya lagi. “Berat Motor yang dipakai Bochel 55 kg, Bochel sendiri beratnya 40 kg, agar sampai di angka 103 kg dipasangn pemberat lempengan besi yang telah seimbang,” ujar Kentar Dima selaku mekanik tim tersebut.

Motor matik Indonesia memiliki berat bersih 103 kg sampai 115 kg. Dengan pelucutan peranti standar yang tidak berguna di drag bike, didapat 50 kg lebih sikit. Paling banyak  dengan babat sasis bagian belakang. Tangki bahan bakar diganti dengan ukuran lebih kecil dan material ringan. “Tapi dengan aturan yang baru, tim harus rancang ulang sasis. Pemangkasan yang dilakukan tahun lalu menjadi percuma karena harus menambah beban sekitar 15 kg,” tutur Popo.

                                       


Bambang ‘Kapten’ Haribowo yang sejak ketemu portal ini 20 tahun lalu, dia sudah ‘kapten’, tapi nggak pernah jadi kolonel, apalagi jendral. Wah sama dengan maniakmotor.com tetap maniak motor, dong. Alasan dia punya orang sebagai koordinator komisi teknik drag bike di PP IMI,  bahwa penambahan bobot semata keamanan. “Idealnya bobot tidak lebih dari separuh standar untuk dikurangi,” jelas ‘Kapten’ yang sehari-hari aktif di Pengprov Jatim, tanpa memberi keterangan logika tekniknya.

Dari segi handling, penambahan bobot yang dilakukan tentu memengaruhi catatan waktu. Stabil sih pasti, tapi pelan. Makanya, ragulasi bobot ini masih akan dipertanyakan. “Aturan itu kan untuk kejurnas. Di klub event kalaupun tidak dipakai tidak apa-apa. Karena aturan tertinggi di di klub event adalah PUP (peraturan umum perlombaan) yang dibuat oleh promotor berdasarkan juklak Pengprov IMI,” tukas Rio Teguh Pribadi, selaku Ketua PengProv IMI Jabar.

Waduh, bingung nih? Bukankah kejurnas menjadi tolok ukur semua event di Indonesia, termasuk aturannya? Andai aturan berbeda-beda, kasihan peserta dong. Mereka harus punya banyak motor.  Ikut  kejurnas punya motor bobot sesuai aturannya, ikut klub event harus punya bobot sesuai klub event. Maaf, ini pendapat maniakmotor.com. Adit





0 comments: